Musik dengan tema kritikan dan protes semakin hari semakin jarang terdengar, tenggelam oleh maraknya musik yang bertemakan cinta dan gaya hidup modern yang glomour. Meski demikian masih saja ada musisi yang dengan suka rela berkorban, merelakan waktu dan pikiran mereka untuk menciptakan sebuah karya album musik yang bagi banyak orang tidak enak untuk dinikmati, membosankan karena berisikan nada dan lirik penuh kritikan, penuh protes, bahkan penuh makian terhadap segala bentuk ketidakadilan yang terjadi di muka bumi.

Kehadiran album musik jenis ini yang secara bertahap sudah ditinggalkan seolah menandai bahwa sudah mulai menipis rasa kemanusian kita, sudah mulai turun perasaan adil dalam diri kita, sudah mulai pergi kebersamaan kita.

Inilah daftar 24 musisi dunia beserta album mereka yang bertemakan protes:

  1. Let England Shake – PJ Harvey

Let England Shake PJ HarveyAlbum ini dikeluarkan pada 11 February 2011, album ini milik PJ Harvey, seorang penulis lagu dan juga penyanyi asal Inggris. PJ Harvey dalam albumnya memprotes perang yang terjadinya di Afganistan dan mengkritik gagalnya diplomasi untuk mencegahnya terjadinya perang. Ia juga menggambarkan bagaimana kejamnya tragedy kemanusian akibat perang. Lagu-lagunya antara lain In the Dark Places, Bitter Branches, Hanging on the Wire dan Words That Maketh Murder.

  1. From Africa With Fury: Rise – Seun Kuti & the Egypt 80

From Africa With FuryAlbum ini dikeluarkan pada 4 April 2011, Seun Kuti adalah anak dari legenda Afrobit, Fela Kuti. Sean Kuti bersama dengan bekas band ayahnya, The Egypt 80, melayangkan protes dan kritikan kepada para pemimpin militer di negara-negara Afrika, mengkritik para jendral yang memerintah secara dictator dan memperlakukan rakyat seperti layaknya budak. Dalam album ini juga mereka memprotes perusahan-perusahan tambang seperti Monsanto dan Halliburton yang mengeksploitasi kekayaan bumi Afrika hanya untuk kepentingan pribadi, tanpa memperhatikan rakyat Afrika yang menderita.

  1. Worldwide Rebel Songs – The Nightwatchman

Worldwide Rebel SongsAlbum ini diterbitkan pada 29 Agustus 2011 oleh kelompok The Nightwatchman. Isi album ini berisikan seruan dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami oleh anggota serikat pekerja di negara bagian Wisconsin, AS. Dari judul lagu-lagu seperti Save the Hammer for the Man , Speak and Make Lightning dan It Begins Tonight , kita bisa menebak seperti apa seruan yang bakal dilontarkan oleh penulisnya.

  1. Soundtrack to the Struggle… – Lowkey

Soundtrack to the StruggleLowkey adalah rapper asal Inggris keturunan Irak. Album ini keluarkan pada 16 Oktober 2011 dan berisikan lagu-lagu yang menyuarakan kritikan dan protes terhadap banyak hal. Dalam lagu Too Much ia mengkritik soal mental korupsi dari kaum kapitalis, Hand on Your Gun berkisah tentang kolonialisme yang dilakukan oleh para kontraktor militer, dalam lagu berjudul Terrorism? Lowkey mempertanyakan arti sebenarnya Terorisme, lagu berjudul Obama Nation mengisahkan tentang terpilihnya Obama tidak memberikan perubahan apapun terhadap sikap dan kebijakan AS dan lagu Something Wonderful mengisahkan tentang penghormatan kepada wanita yang berjuang dengan susah payah. Secara umum album ini merupakan tangis perlawanan terhadap tindakan marginalisasi yang terjadi di seluruh dunia.

  1. Wrecking Ball – Bruce Springsteen & the E Street Band

Wrecking BallBruce Springsteen mengatakan bahwa sebagian besar hidupnya dihabiskan untuk mengukur seberapa besar jarak antara yang disebut sebagai American Reality dan American Dream, mungkin yang dimaksud dengan American Reality adalah golongan rakyat AS yang termasuk dalam kelas pekerja yang hidupnya biasa-biasa saja sampai yang paling susah, sedangkan American Dream adalah golongan kelas atas, orang-orang kaya di AS yang hidupnya tidak pernah tertimpa krisis.

Album ini secara umum mengisahkan perjuangan kaum pekerja di AS yang berusaha untuk bertahan hidup di tengah krisis ekonomi yang menimpa negara tersebut. Lagu-lagu dalam album tersebut antara lain Easy Money, Jack of All Trades, This Depression, Shackled & Drawn, Death to My Hometown.

  1. Agnostic Hymns & Stoner Fables – Todd Snider

Agnostic Hymns & Stoner FablesTodd Snider merilis album ini pada 6 Maret 2012, sebagian besar isi dari album ini terinspirasi oleh kehancuran ekonomi yang disebabkan oleh Wall Street dan dampaknya terhadap kaum kelas pekerja Amerika Serikat. Snider yang beraliran music Country di lagu pertamanya mengisahkan tentang kerakusan para manusia beraliran capitalisme. I

nspirasi awal album Snider ini berasal dari cerita tentang beberapa orang yang menginginkan milik seseorang, sekelompok orang tersebut dengan menggunakan segala macam cara dan sampai harus membunuh sang pemilik barang yang diinginkan, setelah mendapatkan meraka lalu membagi-bagikan harta rampasan itu di antara mereka. Pada lagu “New York Banker,” dikisahkan seorang guru yang menaruh uang gaji untuk persiapan pensiun di pasar saham, sambil tetap bekerja sebagai guru sementara bankir penipu itu mendapatkan keuntungan dari dana yang distor oleh sang guru, sang guru sendiri akhirnya akan kehilangan uangnya akibat dari kelicikan bankir tersebut. Lagu-lagu lainnya mengisahkan tentang para penganguran yang tidak paham kenapa mereka bisa sampai seperti itu, namun yang mereka paham hanyalah telah lelah dengan situasi tersebut.

  1. Rebirth – Jimmy Cliff

RebirthLegenda Regea dunia Jimmy Cliff sepertinya tidak mau pensiun dalam berkarya terutama dalam urusan kritik mengkritik. Dalam album Rebirth yang terbit 17 Juli 2012, beliau menyatakan protes terhadap peperangan dan kemiskinan. Lagu World Upside Down berisikan protes terhadap segala macam hal, Jimmy Cliff dalam syair di lagunya menyatakan bahwa “Mereka bilang dunia ini berputar tapi saya katakana bahwa dunia ini terbalik”. Lagu Children’s Bread merupakan kiasan terhadap predator yang mengambil roti milik anak kecil untuk diberikan kepada anjing.

  1. Antibalas – Antibalas

Antibalaskelompok Afrobeat asal Brooklyn , beranggotakan 10-12 orang, terdiri atas pemain terompet, vokalis, pemain keyboard dan pemain alat musik perkusi, membuat musik mereka menjadi kuat. Kekuatan lagu dan musik kelompok ini terletak pada lirik yang dibawakan. Lagu The Ratcatcher mengkritik tentang bagaimana perang melawan terorisme, dalam lagu tersebut dilukiskan tentang seseorang yang mencoba menangkap tikus dengan menggunakan perangkap, meski berhasil menangkap seokor tikus namun tikus-tikus sepertinya tidak pernah habis untuk ditangkap dan suatu saat orang tersebut baru tersadar bahwa satu atau dua ekor yang tertangkap maka akan ada seratus ekor lagi yang datang. Secara keseluruhan album ini berisikan lagu-lagu kritik yang pedas.

  1. Mourning in America and Dreaming in Color – Brother Ali

Mourning in America and Dreaming in ColorBrother Ali dalam album Mourning in America and Dreaming in Color yang dirilis 18 September 2012, lebih banyak mengangkat tentang kontradiksi Amerika dan bagaimana agar AS bisa lebih dari situasi saat ini. Lagu Only Life I Know bercerita tentang bagaimana rasanya terjebak dalam lingkaran kemiskinan, lagu Work Everyday berkisah tentang ketidakmampuan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Brother Ali banyak mengkritik tentang pembunuhan, tentang perang melawan terorisme, perang ekonomi atau perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat di luar negeri.

  1. Sorry to Bother You – The Coup

Sorry to Bother YouThe Coup merilis album ini pada 30 October 2012, lagu-lagunya dalam albumnya terinspirasi oleh pekerjaannya saat menjadi telemarketing.

Lagu-lagu dalam albumnya mengajak para pendengarnya untuk tidak takut menolak atau melawan narkoba, mengajak orang untuk berani menentang sistem kekuasaan yang tidak pro kepada rakyat.

  1. Soundtrack to the Revolution – Rebel Inc.

Soundtrack to the RevolutionRebelinc yang asli Detroit merilis album ini pada 20 November 2012, ciri band ini adalah vokalnya yang sangat mirip Rage Against The Machine serta beraliran heavy rock dengan lirik yang provokatif yang bertujuan untuk mempengaruhi massa untuk melakukan perlawanan.

Pada lagu Killin’ the Future, para pendengarnya diajak untuk bangkit dan merebut kembali masa depan mereka dari para kapitalis serakah. Lagu Police State menuturkan bahwa semua mesin sepertinya dipakai untuk menentang dan menekan kemanusiaan, jadi adalah penting untuk bangkit dan melawan polisi. Lagu G.I. Resistance menampilkan lirik yang pedih tentang tindakan mengerikan para tentara yang diperintahkan dalam perang. Lagu Honor the warrior, not the war/Support the warrior with G.I. resistance, Menyampaikan kepada para pendengarnya untuk segera bertindak menghadapi ketidakadilan ekonomi dan pemerintah yang korup.

  1. Nation II Nation – A Tribe Called Red

Nation II NationA Tribe Called Red berasal dari Ottawa, Kanada, mereka adalah grup musik elektronik yang terdiri dari tiga orang DJ musik lokal. Musik mereka merupakan gabungan dari pow wow vocal, ritme dan irama yang inovatif. Dalam pernyataan di website mereka bahwa setiap lagu adalah tentang pemberdayaan pemuda Aborigin untuk “mempertahankan warisan mereka.” Bahwa masyarakat Aborigin harus bisa mengekspresikan diri, tetapi mereka juga harus memiliki kemampuan untuk mengkritik. A Tribe Called Red juga mengkritik soal rasialis, soal klaim ulang atas hal-hak penduduk asli Amerika dan pelestarian budaya asli.

  1. White People and the Damage Done – Jello Biafra & The Guantanamo Medicine Show

White People and the Damage DoneBand ini merupakan bentukan Jello Biafra, mantan vokalis band Dead Kennedys dan album ini dirilis pada 2 April 2013. Album ini berisikan olokan dan ejekan terhadap para orang kaya dan penguasa yang bergelimang harta dan kemulian. Lagu The Brown Lipstick Parade mengejek para anggota dua partai politik di AS, Demokrat dan Republic bahwa tujuan mereka terpilh dalam pemilu adalah hanya sekedar untuk mendapatkan uang lobi. Lagu Werewolves of Wall Street dianggap memiliki lirik karakter yang bagus dalam mengkritik para pelaku bisnis di wall street, lagu White People and the Damage Done menuturkan bahwa kita seharusnya tidak perlu mempersenjatai kaum Jihad untuk melawan Soviet, “Shock-U-Py!” adalah lagu yang menuntut para pemegang kekuasaan untuk turun ke jalan.

  1. Transgender Dysphoria Blues – Against Me!

Transgender Dysphoria BluesBand aliran punk Against Me merilis album ini pada 21 January 2014, setelah sang vokalis, Laura Jane Grace menjadi seorang transgender di tahun 2012, tema lagu-lagu band ini terfokus pada cerita tentang kehidupan para kaum transgender. Tuntutan band ini melalui lagu-lagu karya mereka agar para transgender diperlakukan sama seperti seorang wanita sejati. Lagu “True Trans Soul Rebel” memberikan semangat kepda para transgender untuk tidak malu terhadap kondisi mereka. Tujuan band ini yang tercermin dalam album ini adalah menjadikan musik sebagai senjata yang ampuh untuk melawan upaya pemusnahan terhadap kaum transgender.

  1. Emmaar – Tinariwen

EmmaarAlbum ini dirilis oleh Tinariwen pada 11 February 2014. Kisah berawal ketika musik di Mali dilarang oleh kelompok militan Islam, yang telah mengambil alih negeri itu. Hal ini menjadikan kelompok-kelompok seperti Tinariwen terpaksa hidup di pengasingan.

Karena perang dan penindasan terhadap kaum musisi, kelompok ini harus melarikan diri dan merekam album ini jauh di Gurun Mojave, California dekat Joshua Tree.

Kelompok yang mempunyai warna musik rakyat yang tinggal padang pasir dan blues ini, menjadikan setiap music mereka begitu berenergi. Lagu-lagu dalam album mereka berisikan protes, penolakan terhadap kaum Jihad yang sudah melarang orang untuk bermusik.

  1. Omnia – Earth Warrior

OmniaBand yang berbasis di Belanda menggambarkan dirinya sebagai band Neo Celtic pagan. Musik mereka menggabungkan berbagai alat music seperti kecapi, seruling, bagpipe, dan instrumen lainnya seperti lir, arranger, Bodhran, dan didgeridoo.

Lagu mereka mengajak para pendengarnya untuk menghormati dan menghargai alam. Lagu-lagu dalam album ini seperti People breed dissociation/Industrial nation of elimination, Crazy Man, Free Bird, secara nyata mengkritik dan memprotes yang namanya pengrusakan hutan, Genoside atau pemusnahan etinis. Secara keseluruhan, Omnia percaya bahwa musik spiritual mampu untuk mendorong orang untuk membebaskan pikiran mereka dan menjadi lebih selaras dengan alam.

  1. Government Issue Music Protest – Loki with Becci Wallace

Government Issue Music ProtestLoki si Raper Skotlandia, merilis album ini pada 5 November 2014, tema dari album ini adalah tentang cerita suram seorang jurnalis Skotlandia yang akhirnya terjebak dalam kekerasan. Banyak dari lagu-lagu rap pada album ini diselingi dengan berita tentang perkembangan parlemen Skotlandia yang mulai hancur, tentang Olimpiade London, atau tentang drone yang dibajak teroris.

Lagu-lagu nya juga banyak mengkritik para orang kaya di Skotlandia yang tinggal di atas menara, sementara kaum miskinnya tinggal dalam kawasan kumuh, ia juga mengkritik tentang masalah politik dan budaya.

  1. Sincerity – Kimmortal

SincerityKimmortal adalah imgran Filipina yang tinggal di Vancouver, musiknya mengandung puisi yang indah dan empowering. Kata-katanya dalam musiknya berupa vocal yang soulful namun kadang-kadang dalam bentuk nge-rap. Kimmortal adalah seorang lesbian, dalam lagu Blue & Orange, ia menyuarakan tentang hubungan lesbiannya dengan sang kekasih dan mengajak sang pacar agar jangan sampai kaum anti gay merusak hubungan mereka. Ia juga mengingatkan mengapa orang-orang sulit untuk hidup secara damai.

  1. Black Messiah – D’Angelo

Black MessiahD’Angelo merilis album ini pada 15 December 2014, segera setelah seorang polisi membunuh Mike Brown dan juga sebagai bentuk protes terhadap kekerasan polisi yang terjadi di Amerika Serikat. Lagu-lagu dalam album D’Angelo melukiskan tentang perjuangan kaum kulit hitam menuntut kesetaraan hak dan perlakuan. Lagu Til It’s Done merefleksikan kembali kehidupan kita di jagad raya ini.

Dalam lagu-lagunya sang creator album ini mengutip pesan anti perang 1000 Deaths, Seorang pengecut mati seribu kali, tapi seorang tentara hanya mati sekali.

  1. Meanwhile in Afghanistan – David Rovics

Meanwhile in AfghanistanDavid Rovics adalah penyanyi dan penulis lagu. Meanwhile in Afghanistan dirilis 5 January 2015, album ini berisikan kritikan terhadap banyak persoalan seperti tindakan rasialis di Eropa, rencana NATO terhadap perang di Afganistan dan tentang Israel dan Palestina yang tak kunjung usai.

 

  1. To Pimp a Butterfly – Kendrick Lamar

To Pimp a ButterflyMelalui album yang dirilis pada 16 Maret 2015 ini, Kendrick Lamar secara bersamaan mengeksplorasi evolusi dirinya sebagai rapper dan menampilkan masalah-masalah sosial. Lamar mengkritik soal eksploitasi kaum seniman kulit hitam Amerika pada industry musik negri itu.

Dalam lagu Hood Politics Lamar menyandingkan Konggres AS tidak bedanya dengan gang jalanan.

ksploitasi seniman hitam oleh industri musik untuk eksploitasi orang kulit hitam oleh Paman Sam. “Dilembagakan” adalah tentang keinginan untuk melarikan diri ghetto sebelum tenda membawa Anda ke bawah. March 16, 2015

  1. Full Communism – Downtown Boys

Full CommunismDowntown Boys didirikan oleh vokalis Victoria Ruiz, dan gitaris Joey DeFrancesco. Tujuan Downtown Boys melalui album ini adalah untuk melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan ekonomi, penindasan rasial, dan imperialisme melalui musik dan video.

 

 

  1. Whatever’s Left – Grace Petrie & The Benefits Culture

Whatever’s LeftGrace Petrie & The Benefits Culture beraliran folk-punk Inggris, kelompok ini dianggap cukup bagus dan layak untuk diakui secara luas. Lagu-lagu mereka dalam album ini lebih menyuarakan kritik-kritik dan protes sosial terhadap persoalan yang terjadi di Inggris.

Lagu If There’s a Fire in Your Heart, mengajak pendengarnya untuk segera mengambil sikap ada percikan api dalam diri anda, lagu You Pay Peanuts You Get Monkeys (You Pay Nothing You Get Nowt melukiskan tentang kondisi para pekerja kelas bawah yang ada di Inggris. Lagu Whatever’s Left bercerita tentang program kesejahteraan yang kacau balau. Dan masih banyak lagi tema-tema kritik yang diusung grup musik ini seperti gerakan homophobia dan anti-gay di Russia, Uganda, dan juga tentang presenter TV, Jeremy Clarkson.

  1. Payola – Desaparecidos

PayolaBand ini dipimpin oleh Conor Oberst. Album Payola dirilis pada 23 Juni 2015 mengisahkan tentang petugas polisi yang berusaha untuk membersihkan kota di Arizona dari kaum imigran hispanik sehingga yang ada hanyalah kaum kulit putih saja.

 

Sumber: shadowproof.com