Inilah adalah sambungan dari bagian 1, sebelum membaca bagian 2 sebaiknya anda membaca bagian 1. Klik di sini.

Hari berikutnya, koran setempat mengecam bahwa intervesi yang saya lakukan merupakan sebuah bentuk penghinaan terhadap keluarga Comorra.

Beberapa hari setelah itu, seseorang mengikuti saya dalam perjalanan di kota Naples dan saat  berada dalam bis, orang itu berbisik dari belakang saya, katanya : “ Kau tahukan kalau mereka akan membuatmu membayar atas apa yang kau lakukan di Casal di Principe”

Kurang dari sebulan setelah kejadian itu, saya pulang ke Naples dari sebuah festival, saya bertemu dengan dua orang anggota Carabinieri ( Polisi Militer Italia ) di stasiun kereta. Kami lalu pergi dengan naik mobil anti peluru. Kedua anggota PM itu diperintahkan untuk melindungi saya.Anda Tidak Akan Pernah Menyesali Hidup Anda Setelah Anda Membaca Kisah Ini2Setelah musin dingin, pengamanan dilipatgandakan karena ada tersebar rumor dari balik penjara bahwa Camorra berencana untuk membunuh saya.

Sang bos mafia, Salvatore Cantiello, yang sedang berada di balik jeruji penjara, ia selalu mengikuti perkembangan berita tentang saya di TV, dikahabarkan memberikan komentar : “ Terus saja bicara karena nanti kau tidak akan bisa bicara lagi “

Selama delapan tahun terakhir, saya telah bepergian ke mana-mana dengan dikawal oleh 7 orang pengawal terlatih, kami berpindah-pindah dalam dua buah mobil anti peluru.

Saya tinggal di barak-barak polisi atau kamar hotel yang tanpa nama, dan jarang kami bermalam di tempat yang sama lebih dari beberapa malam.

Sudah lebih dari delapan tahun saya tidak pernah naik kereta api, sudah lebih dari 8 tahun saya tidak pernah naik vespa, sudah lebih dari 8 tahun saya tidak pernah jalan-jalan atau pergi minum bir.

Semua kegitan saya sudah terjadwal, bahkan sampai hitungan menit. Tidak ada hal yang terlupakan. Melakukan hal-hal spontan yang saya sukai bisa berkibat pada dampak yang kompleks.

Setelah delapan tahun dibawah pengawalan bersenjata, tekanan atas hidup saya hampir tidak pernah menjadi berita. Nama saya diasosiasikan dengan kematian dan pembunuhan yang tidak tercatat.

Setelah bertahun-tahun hidup dalam perlindungan negara, saya merasa bersalah karena masih tetap hidup.

Sialan benar hidup ini – sulit untuk melukiskan betapa buruknya hidup ini. Saya berada dalam empat dinding, dan satu-satunya pilihan untuk keluar dari balik dinding adalah dengan tampil di depan publik.

Saya juga ikut dalam Akademi Nobel untuk berdebat tentang kebebasan pers, atau dalam ruangan tanpa jendela di barak polisi. Terang dan gelap. Tanpa bayangan di antara keduanya.

Terkadang ketika memandang tepian sungai, saya terpikir kembali tentang hidup saya sebelum dan sesudah Gomorrah. Selalu ada sebelum dan setelah untuk segala sesuatu, termasuk persahabatan.

Satu yang hilang, pergi, karena mereka merasa terlalu sulit untuk berdiri bersama saya , ini yang saya rasakan di beberapa tahun terakhir ini.

Tempat yang saya kenal sebelumnya dan tempat yang selama ini saya berada, Naples, terasa berada juah di luar jangkauan saya – sebuah tempat yang hanya bisa saya kunjungi cuma lewat khayalan saja.

Saya telah bepergian ke seluruh dunia, berpindah dari satu negara ke negara lain, membuat penelitian untuk menemukan sedikit kepingan-kepingan kecil kebebasan yang tersisa.

Saya menulis artikel ini ketika berada di New York, saat mendengar berita tentang Charlie Hebdo. Sangat menyakitkan bagi saya.

Saya tidak kenal dengan sang editor dari majalah itu, tapi saya tahu dia pasti hidup dalam kawalan seperti saya. Saya tahu seperti apa situasi yang dia hadapi dan resiko apa yang mengancamnya.

Dengan terjadinya penembakan di Paris, di Eropa menulis menjadi pekerjaan  yang sangat berbahaya. Kita sudah dilupakan. Mungkin tidak terlupakan bagi warga Italia, setidaknya bagi kita yang menulis tentang mafia.

Sepuluh orang jurnalis Italia saat ini hidup di bawah perlindungan polisi karena intimidasi dan ancaman dari mafia, termasuk Lirio Abbate, di mana pengawalnya menemukan bom di bawah mobilnya setelah ia menulis buku tentang bos Cosa Nostra, Bernardo Provenzano.

Kebebasan berekspresi adalah hak yang harus dijamin selamanya, jika kita mengabaikannya maka kita akan seperti tanaman yang layu kekurangan air.

Saya terkesan dengan pernyataan Charbonnier di tahun 2012:   “saya tidak takut dengan pembalasan. Saya tidak punya anak, saya tidak punya istri, saya tidak punya mobil, saya tidak punya utang. Sombong memang kedengarannya, tapi saya lebih baik mati di atas kaki saya daripada hidup dengan berlutut. Bagi banyak orang menulis hanyalah sebuah tugas, tanpa konsekuensi. Tapi bagi sebagian orang itu tidak demikian.

Jika Gomorrah hanya dibaca oleh beberapa ribu orang saja, maka Camorra tidak akan peduli. Alasan mereka merasa terusik adalah karena saya menulis kebenaran tentang organisasi kejahatan.

Ketakutan terbesar mereka adalah menjadi sorotan, jadi pusat perhatian. Seperti yang diungkap oleh mantan bos mafia, bahwa para anggota Mafia Camorra selalu ingin menjadi yang utama, selalu ingin menjadi orang penting di daerah mereka; mereka ingin menjadi terkenal di wilayah kekuasaan mereka, orang-orang takut terhadap kekuatan senjata yang mereka punya, tapi pada tingkat internasional mereka tidak mau dikenali.

Mendapat eksploitasi secara luas menjadi pukulan yang telak terhadap Comorra karena perhatian public secara luas terarah pada kegiatan bisnis illegal mereka.

Saya sering ditanya, mengapa Camorra yang kuat itu takut sama saya. Sebenarnya bukan saya yang mereka takut tapi pembaca saya yang mereka takutkan.

Bersambung ke bagian 3…