Baca dulu bagian 3 sebelum melanjukan ke bagian 4, klik di sini...

Hidup dalam ketakutan

Pada bulan Maret 2008, dua tahun setelah Gomora diterbitkan, para mafia meningkat ancaman terhadap saya. Pengadilan terhadap para mafia yang dikenal dengan istilah Spartacus- yang mana ada 24 anggota dari klan mafia Casalese didakwa membunuh, pemerasan, korupsi.

Pengacara dari dua bos Camorra membacakan dengan lantang dokumen yang menyebutkan kasus pengancaman terhadap saya dan jurnalis lainnya.

Rosaria Capacchione, mengklaim bahwa penangkapan terhadap kedua bos mafia itu karena laporan kami.

Dengan pengumuman ini, jelas pesan yang terkirim ke para mafia bahwa jika benar kedua bos itu terbukti bersalah, maka kami para jurnalis akan menjadi target.

Dua bos itu, Antonio Iovine dan Francesco Bidognetti, dituntut 12 tahun. Sebelum sidang berakhir, para bos mafia dan pengacara mereka didakwa atas pengancaman dan dibacakan di depan pengadilan.

Kasus ini diputuskan pada bulan November tahun lalu, di mana kedua bos itu dibebaskan, namun pengacara mereka, Michele Santonastaso, dihukum karena membuat ancaman bergaya mafia.

Saya duduk dalam ruangan sidang di Naples saat putusan itu diumumkan. Para bodyguards saya ada di situ, dan Rosy, pengacara kami serta pengacara dari lawan kami.

Hanya kedua bos yang tidak ada di ruang sidang, tapi mereka menonton melalui tanyangan video dari penjara.

Di belakang kami banyak kamera dan jurnalis. Sangat sedikit orang yang hadir saat itu yang saya kenal; ketika anda mengalami hidup seperti saya maka semua orang akan menyaksikanmu dari jauh saja, atau mengikuti jalan hidupmu melalui sosmed.

Bagi saya, kenyataan bahwa putusan bebas dua bos mafia itu dan bersalahnya pengacara mereka merupaka sesuatu yang absurd, tidak jelas.

Saya kecawa tapi tidak ada yang mengejutkan saya sama sekali. Hadir juga jurnalis asing saat itu tapi saya tidak yakin mereka paham dengan putusan tersebut. Saya tidak menyalahkan mereka.

Santonastaso dihukum 11 tahun penjara karena bergaya ala Mafia, tidak ada tuntutan dan ganjaran atas tuduhan lainnya seperti membantu, bersekongkol dan sumpah palsu.

Para bos itu bebas begitu saja, namun intimidasi terhadap para jurnalis secara diam-diam masih terjadi dan itu sangat membingungkan saya.

Namun bagi saya, putusan pengadilan itu sebagai momen bersejarah, dan semoga menjadi langkah awal bagi saya dan para penulis lainnya yang hidup di bawah perlindungan untuk mendapatkan kembali kebebasan dalam hidup kami.

Orang sering bertanya apakah saya takut jika mafia akan membunuh saya. “Tidak,” kataku, dan jawaban saya hanya itu. Saya menyadari kebanyakan orang tidak akan percaya, tapi itu benar-benar kenyataan.

Itu benar-benar. Saya takut terhadap banyak hal, tapi kematian adalah salah satu dari sekian banyak ketakutan saya.

Saya kadang-kadang berpikir tentang rasa sakit, tentang seperti apa rasanya mati dengan menyakitkan. Tapi secara umum, cukup mengejutkan karena kelihatannya saya tidak berpikir tentang kematian.

Banyak hal yang menakutkan saya dari pada sekedar kematian. Saya takut hidup saya akan seperti ini terus dan tidak pernah kembali normal lagi. Saya lebih sangat takut hidup saya seperti ini terus dari pada kematian.

Ada ketakutan lain, lebih buruk dari apa pun. Ketakutan akan didiskreditkan. Ini terjadi pada semua orang yang pernah dibunuh untuk apa yang mereka percaya dan yakini.

Ini terjadi pada semua orang yang telah melaporkan kejahatan atau mengatakan kebenaran yang tidak nyaman bagi pelaku terlapor.

Mereka melakukannya terhadap Don Peppe Diana, imam yang ditembak mati di Casal di Principe 1994 karena memberitakan melawan mafia dan mengancam untuk menolak untuk memberikan sakramen-sakramen kepada anggota Camorra.

Setelah kematiannya ia difitnah melakukan pencabulan.

Federico Del Prete, seorang anggota serikat buruh dibunuh di Casal di Principe pada tahun 2002, telah dipermalukan dengan tuduhan palsu pada hari pemakamannya.

Diskredit juga diterima Giovanni Falcone, hakim anti-mafia yang dibunuh oleh Cosa Nostra tahun 1992; mereka melakukannya juga terhadap wartawan Pippo Fava. Dan entah bagaimana, mereka selalu menemukan cara untuk menyakiti orang yang sudah mati.

Media akan menutupi kematian saya dan gossip jahat akan mulai beredar. Begitu seorang anak yang tewas dalam perkelahian, atau imam ditusuk saat memimpin misa, rumor dan gossip mulai berdengung seperti lalat. Dan roda mulai berputar, media-media sirkus harus terus bergerak.

Saya tidak pernah lupa apa yang dikatakan oleh suami dari jurnalis investigasi Rusia, Anna Politkovskaya, setelah kematian istrinya, katanya: Lebih baik seperti ini: lebih baik mati daripada didiskreditkan. Anna tidak akan menanggung ini. “

Saya diberitahu bahwa mereka berencana itu menjebaknya. Tidak lama setelah ia dibunuh, mereka coba menculiknya.

Rencananya adalah coba untuk membuatnya terlibat narkoba, membuat film porno yang melibatkannya dan menyebarkannya ke seluruh dunia, mendiskreditkan kampanyenya soal kebebasan informasi.

Inilah yang membuat saya terpuruk: ketakutan bahwa saya akan didiskredit, apapun caranya, hal ini menjalar ditubuh saya, saya tidak bisa melindungi diri saya dan tulisan saya.

Saya merasa itu sudah terjadi, bahwa orang-orang mengatakan, “Dia berbohong, dia melakukan plagiat, dia memfitnah kita” dan itu lebih penting daripada penelitian saya, usaha saya sendiri untuk menyelidiki segalanya.

Saya selalu dituduh mencoba mendapatkan uang dari mafia, menghina Naples, membuat harga barang-barang naik. Ini adalah cara mengecilkan volume dari apa yang saya katakan. “Kita tahu semua ini, itu sudah pernah ditulis,” itulah salah satu hal yang mereka katakan.

Jika mereka mengatakan, “Itu tidak benar,” kita akan tahu bahwa mereka-mereka itu hanya corong para mafia. Tetapi jika mereka mengatakan, “Kami telah mendengar semua itu sebelumnya,” itu adalah cara yang lebih halus untuk menjatuhkan dan merusak saya.

Saya diserang tidak hanya oleh Camorra, tetapi juga oleh bagian dari masyarakat sipil dan bahkan oleh wartawan yang malu bahwa mereka tidak pernah berbicara menentang mafia, dan bahwa kebisuan mereka membuat mereka terlibat.

Orang dekat saya memberitahu saya untuk tidak khawatir, bahwa itu hanya bentuk iri hati. Mengingat semua yang terjadi, kritik seperti ini adalah bagian yang paling sulit untuk ditebus.

Saya masih sangat muda ketika saya menulis Gomora, saya tidak punya waktu untuk dirasuki atau tercemar hal-hal buruk, atau berkompromi dengan cita-cita saya. Untuk meminta bantuan dan berada dalam utang seseorang. Kebanyakan orang harus menjual diri mereka dan ini tidak bisa dimaafkan.

Saya tidak mau membuang waktu memikirkan orang-orang yang ingin menyerang saya. Jika saya menjawab, itu hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan adalah fokus pada pekerjaan saya, pada audiens saya, melebihi pengawal bersenjata saya yang melindungi saya.

Bahwa saya memiliki audiens yang menjamin kebebasan saya, terlepas dari semua keterbatasan. Semuanya adalah tentang diri saya yang istimewa, sebuah pribadi yang hadir secara istimewa. Kritikan yang paling pedas adalah yang paling sering saya alami tapi kritikan itu juga melindungi saya.

Saya berpikir tentang sejumlah besar orang di Italia yang hidup seperti saya, di bawah penjagaan bersenjata aparat keamanan negara: Orang-orang yang tidak begitu dikenal menghadapi ancaman sendirian dan tanpa perlindungan, setiap hari dalam hidup mereka.

Saya berpikir tentang orang-orang yang menjadi target, meskipun mereka dikenal, tapi tidak ada perlindungan. Kematian di kantor Charlie Hebdo harus membuat siapa pun yang tidak berusaha mengubah dunia merasa bersalah.

Sejak saya menulis Gomora, ada pemahaman yang lebih besar tentang mafia, dan di Italia pemerintah berkali-kali telah dipermalukan dalam berinvestasi memerangi kejahatan terorganisir. Mereka tidak bisa berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi lagi, dan opini publik tidak akan membiarkan mereka lolos.

Jika Anda mendorong saya, saya akan mengatakan persepsi masalah telah berubah secara radikal. Ini adalah kekuatan novel non-fiksi, jenis buku yang sudah saya coba untuk tulis. Untuk menceritakan kisah nyata dengan kekakuan dari jurnalis dan gaya sastra novelis.

Ada satu baris kutipan dari Truman Capote sering saya renungkan: “Lebih banyak air mata ditumpahkan bagi doa yang sudah terjawab daripada bagi doa yang belum terjawab.”

Impian saya adalah kata-kata akan memiliki kekuatan untuk membawa perubahan. Terlepas dari semua yang terjadi padaku, doa saya sudah dijawab. Tapi saya sudah menjadi seseorang yang berbeda dari yang saya bayangkan.

Proses ini menyakitkan, saya telah menemukan itu sulit untuk diterima, sampai saya menerima kenyataan bahwa tidak satupun dari kita yang mengendalikan nasib kita sendiri. Kita hanya bisa memilih cara untuk memainkan peran yang diberikan kepada kita.

Sumber: http://www.theguardian.com

Diterjemahkan dari tulisan asli berbahasa Italia ke Bahasa Inggris oleh  Clare Longrigg dan diterjemahkan ke Bahasa oleh Norisanto.com