Teringat kembali posting terakhir mengenai kejadian yang menimpa seorang teman, ketika harus menamai ulang server yang jumlahnya 300 buah, membuat saya tersentuh untuk sedikit berbagi pengalaman saya di kantor, terkait dengan penerapan Domain Name Service atau DNS.

Sadar, tidak sadar; Teknologi DNS memberikan banyak keuntungan dan kemudahan bagi para IT support. Menghafalkan urutan angka-angka IP address dari komputer pengguna rasanya bukan solusi yang efektif apalagi kini protocol IP versi 6 sudah mulai diterapkan, makin rumit saja jadinya maka jika tidak segera beralih menggunakan DNS maka kondisi pekerjaan semakin menyulitkan karena beban seorang IT support sendiri sudah cukup banyak dan kompleks.

DNS adalah protocol yang mengubah nama komputer menjadi IP address. Dengan kata lain DNS  membuat nama komputer berfungsi layaknya seperti peran ip address.

DNS memberikan solusi sempurna bagi pengaturan, penamaan dan pengalamatan komputer-komputer yang ada di jaringan, terutama di LAN. Penamaan memudahkan kita mengenali komputer, mulai dari jenis komputer, lokasi dan pemiliknya.

Ketika terjadi masalah, cukup menanyakan apa nama komputernya maka dengan mudah IP dan lokasi komputer segera diketahui. Sangat mudah juga bagi user yang notabene tidak paham IT untuk membantu proses perbaikan dengan memberikan informasi penting  dengan cara yang sederhana dan cepat. Bandingkan ketika si user mengabarkan komputernya bermasalah dan ia sendiri berada di lokasi yang jauh atau di kantor cabang dan dengan sedikit frustasi kita memandu hanya untuk mengecek IP addressnya, yakin 100 persen prosesnya pasti lebih lama dari sekedar menanyakan nama komputer. 

Secara struktur, DNS client dalam hal ini komputer-komputer client harus terkoneksi dengan DNS server. DNS server bertugas untuk mendata semua nama komputer berserta IP addressnya.
Penamaan komputer sebaiknya dibuat standarisasi yang mesti dipatuhi oleh semua pihak, mulai dari pemilik dan pengguna komputer sampai administrator jaringan.

Standarisasi penamaan komputer bisa didasarkan pada berbagai faktor antara lain sebagai berikut.

1.    Lokasi komputer.
Penamaan komputer yang berlokasi kantor pusat dan kantor cabang harus dibedakan. Di kantor pusat biasanya diawali dengat huruf P atau KP, diikuti dengan angka yang menandakan lantai di mana si user berada. Sedangkan di kantor cabang dikasih awalan huruf C dan diikuti inisial nama cabang tersebut.

2.    Spesifikasi Komputer
Selanjutnya setelah lokasi, penamaan komputer didasarkan juga pada jenis dan spesifikasi komputer. Misalnya komputernya jenis apa dekstop, laptop, server, atau thin client. Biasanya desktop diberi kode D, laptop diberi kode M, S untuk server dan TC untuk thincliet.

3.   Yang terakhir adalah tinggal memberikan nomor urut komputer tersebut. Sangat mudah bukan?

Jika ada laporan atau hasil deteksi server anti virus menyatakan bahwa komputer dengan nama P20D100, maka mudah saja kita tentukan lokasinya yaitu di kantor pusat lantai 20, jenis komputernya desktop dengan nomor urut 100.
Jika waktu pemasangan disertai dengan data usernya maka pasti lebih mudah menentukan lokasi tepatnya dan mengabarkan si user bahwa komputernya bermasalah dan segera lakukan tindakan pencegahan seperti mengupdate anti virusnya. Sangat mudah untuk mengingat nama daripada angka.

Satu hal penting terkait DNS adalah Jangan pernah memberi dua atau lebih komputer dengan nama yang sama.