Ini bagian ketiga dan terakhir dari posting tentang pentingnya ilmu listrik bagi IT support, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa di luar sana, masih banyak kejadian dan pengalaman yang membuktikan betapa pentingnya peran ilmu listrik dalam dunia IT, khususnya IT support. Jika ada cerita ataupun pengalaman dari rekan-rekan support maka akan saya posting sehingga berguna bagi pembaca sekalian.

Setelah paham akan simbol dalam dunia listrik khususnya kabel listrik, posting kali ini akan memberikan gambaran tentang salah satu bagian dari listrik yang wajib dipahami. Dalam dunia kampus, komponen listrik ini dikenal sebagai beda potensial, dalam dunia electrical engineering di kenal sebagai Voltage alias tegangan dengan simbol V, volt satuannya.

Indonesia menggunakan standarisasi listrik yang mengatur tegangan listrik AC adalah 220-240 volt untuk tegangan listrik satu fasa atau fasa tunggal. Listrik satu fasa adalah sistem listrik yang terdiri atas satu buah fasa dan netral. Listrik perumahan dan perkantoran kecil masuk dalam kategori fasa tunggal. Dalam praktek, bagian pentingnya adalah bagaimana menentukan dan mengukur sambungan listrik terutama yang bertegangan satu fasa karena paling banyak dan paling sering dipakai.

Dengan voltmeter kita bisa menentukan besar tegangan, yang jadi soal adalah cara mengukurnya. Kondisi ril lapangan sering membuat kita grogi, pemahaman yang baik akan warna kabel sangat membantu. Kejadian lapangan yang saya alami memberikan masukan berharga tentang pentingnya memastikan besar tegangan sebelum dikoneksikan untuk digunakan.

Ketika melakukan perbaikan jaringan CCTV di jalan tol, kami kehabisan power baterei dari laptop, setelah menghubungi pihak terkait, kami disarankan untuk mengambil sambungan listrik dari kotak panel yang ada di lokasi. Ternyata di dalam kotak itu terdapat banyak sambungan listrik dengan berbagai macam warna. Setelah melakukan pengukuran ternyata tegangan listriknya lebih beragam ada yang 400 volt ada yang 1000 volt. Kembali kami mengontak pihak terkait dan diberi jawaban bahwa salah satu dari sekian banyak kabel di kotak itu memiliki tegangan 220 volt.

Satu persatu kabel kami ukur sampai akhirnya ketemu juga yang dicari, 220 Volt AC.

Pengalaman berbeda dialami teman-teman saat di lapangan ketika melakukan pergantian adaptor dari peralatan wireless. Tidak berapa lama setelah adaptor diganti listrik mati total, MCB turun ke posisi nol. Kemudian diganti lagi adaptornya dan kejadian masih sama. Setelah dicek tulisan yang tertera di adaptor, barulah ketahuan masalahnya.

Entah siapa yang salah, ternyata pada adaptor yang baru diganti tertulis input max 110 volt, selidik punya selidik ternyata itu adalah barang stok lama. Sebagai catatan negara kita pernah menggunakan standar tegangan AC 110 volt.

Barang tersebut didapat dari suplier wireless langganan tanpa dicek dahulu oleh pihak logistik. Pihak teknisi pun tidak curiga dan langsung melakukan penggantian tanpa diteliti dahulu tulisan di badan adaptor tersebut.

Terlihat sepele tapi fatal akibatnya jika kita lalai. Bayangkan jika kita tidak melakukan pengukuran untuk memastikan besar tegangan yang akan digunakan. Peralatan yang biasanya menggunakan tegangan listrik 220 volt harus menerima tegangan 400 sampai 1000 volt. Tanpa pembatas arus atau pengaman yang baik maka peralatan tersebut pasti rusak.

Sebelum melakukan sambungan listrik ke suatu peralatan, pastikan spesikasi yang tertera pada labelnya sesuai dengan sumber tegangan listrik yang ada atau yang akan disambungkan.

Sekian, semoga sharing pengalaman yang terbatas ini bisa bermanfaat.
Salam support.