Pada malam 11 April 1955, pesawat carteran bernama Kashmir Princess milik maskapai Air India yang terbang dari Hongkong ke Jakarta meledak dan jatuh di perairan sekitar kepulauan Natuna, Indonesia. Ledakan yang terjadi di bagian sayap sebelah kanan disebabkan oleh bom waktu yang dipasang pada roda di bagian tersebut. Korban tewas dari peristiwa ini adalah seluruh penumpang dan beberapa kru pesawat, menyisakan first officer, navigator dan flight engineer yang selamat . Saat lepas landas dari Hongkong menuju Jakarta, Kashmir Princess membawa 7 penumpang asal Cina dan beberapa wartawan asal Austria, Polandia dan Vietnam Utara, tujuan berkunjung adalah untuk menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung. Sebelum hilang kontak dengan menara kontrol di Jakarta, sebuah pertanyaan aneh diterima para awak pesawat “ Apakah Perdana Menteri Cina, Zhou Enlai, berada di pesawat ? “. Pertanyaan tersebut samar-samar memberikan sedikit keterangan tentang latar belakang terjadinya peristiwa itu.

Pendana Menteri Zhou Enlai adalah salah satu pemimpin yang dijadwalkan akan hadir pada Konferensi Asia –Afrika dan khabarnya akan menumpang Kashmir Princess. Perdana menteri Zhou tidak begitu disukai oleh negara-negara barat yang anti komunis, berbagai usaha dilakukan untuk menggusur posisinya sebagai perdana menteri. Keberadaan sang perdana menteri di konferensi Asia-Afrika dikhawatirkan akan meningkatkan citra RRC sebagai negara adidaya. Informasi keberangkatannya ke Indonesia dengan menumpang Kashmir Princess diduga bocor dan dimanfaatkan negara-negara anti komunis melalui agen rahasia mereka untuk melakukan sabotase.

Sehari setelah jatuhnya Sang Putri, menteri luar negeri Cina memberikan pernyataan bahwa Amerika Serikat dan pemimpin Taiwan, Chiang Kai-shek, terlibat dalam peristiwa tersebut. Meski tidak ada bukti cukup yang mengarah ke sana. Bertahun-tahun kemudian terkuak informasi yang mendukung pernyataan sang Menlu, di mana ditemukannya bukti keterlibatan agen-agen CIA dan Kuomintang dalam peristiwa jatuhnya Kashmir Princess. Bermula dari kesaksian mantan agen CIA bahwa adanya rencana untuk membunuh perdana menteri Zhou saat ia berada di Bandung.

Di waktu yang berbeda seorang mantan agen CIA bersaksi bahwa ia pernah mengirimkan tas yang berisi bom waktu kepada seorang agen Chinese Nationalist yang bakal dipakai untuk membom salah satu pesawat Air India. Bukti-bukti lain yang juga dibeberkan adalah bahwa pelaku pengeboman adalah agen Kuomintang cabang Hongkong. Fakta yang lebih mengejutkan adalah pernyataan yang mengatakan bahwa bom yang dipakai untuk meledakkan Sang Putri menggunakan detonator MK-7 buatan Amerika Serikat. Meskipun bukti dan kesaksian bisa mengarahkan kepada pelaku dan dalang dari peristiwa tersebut namun sampai dengan saat ini tidak seorangpun yang dibawa ke meja hijau. Sebuah indikasi adanya konspirasi tingkat tinggi.

Peristiwa jatuhnya Kashmir Princess merupakan konspirasi politik yang gagal dan kemudian berubah jadi teror bom yang mengerikan. Jelas sudah bahwa teror bom pertama yang tercatat dalam sejarah akibat dari konspirasi politik tingkat tinggi dengan korban sipil yang tidak berdosa. Sebuah kesimpulan akhir bisa ditarik bahwa politik yang menghalalkan segala cara tidak bedanya dengan terorisme.

Referensi:
Was America’s CIA working with Taiwan agents to kill Chinese premier?
by Wendell L. Minnick
From the Far Eastern Economic Review, 13 July 1995, pages 54-55.
Gambar:
sudarjanto.multiply.com