Beberapa saat setelah dilahirkan, Mario Balotelli kecil dinyatakan memiliki gangguan pada saluran pencernaan yang bisa mengancam keselamatan jiwanya. Untuk menyelamatkan si kecil Mario maka orang tuanya harus merelakan bayi mungil itu untuk menjalani serangkaian operasi penyembuhan.

Kekhwatiran orang tua Mario akan keselamatan putra pertama mereka membuat Mario tidak sempat dibaptis sampai usia 3 tahun karena was-was kalau si kecil tiba-tiba meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya. Namun seiring waktu berjalan, kesehatan bayi kecil itu pun semakin membaik.

Perjalanan hidup Mario kecil kembali diterpa badai ketika orang tuanya yang adalah imigran miskin asal Ghana, mengalami kesulitan keuangan untuk merawat bayi kecil itu sehingga dengan terpaksa sang ayah, Thomas Barwuah, yang hanya seorang buruh di sebuah pabrik baja, harus meminta kepada dinas layanan sosial untuk membantu merawat buah hati mereka.

Tahun 1993, ketika usianya masih tiga tahun kedua orang tua kandungnya harus melepas anak mereka untuk diasuh oleh sepasang suami istri Italia, Francesco dan Silvia Balotelli. Orang tua asuh Mario adalah warga kulit putih italia yang kaya.

Setelah selang waktu berlalu, orang tua kandung Mario beberapa kali berusaha untuk mendapatkan kembali anak mereka namun selalu ditolak oleh pengadilan setempat. Thomas Barwuah mengatakan bahwa awal kesepakatannya adalah Mario kecil hanya diasuh selama 1 tahun dan diperpanjang lagi satu tahun. Namun yang terjadi adalah putera mereka terasa semakin sulit untuk bisa berkumpul bersama kembali. Ayah kandung Mario menjelaskan bahwa ia telah berusaha selama lebih dari 10 tahun untuk membuat Mario kembali kepada keluarga Barwuah, namun hasilnya sia-sia.

Derita keluarga kandung Mario Balotelli semakin perih ketika di tahun 2008 Mario Balotelli mendapatkan pengakuan secara resmi sebagai warga Negara Italia, di mana dalam acara pengesahan kewarganeraan itu, keluarga Barwuah sama sekali tidak diberi khabar apalagi diundang. Sang ayah mengatakan ia mengetahui peristiwa itu dari berita di media masa dan mengaku amat kecewa bahwa anak kandungnya tidak menggunakan Barwuah dan memilih Balotelli sebagai nama keluarganya.

Kekecewaan lain yang dirasakan oleh sang ayah adalah bahwa selama 4 tahun Mario hanya sekali mengundangnya untuk menyaksikan pertandingan yang dimainkan Super Mario ketika masih di Inter Milan.

Akhir dari puncak kekecewaan keluarga Barwuah adalah ketika Mario Balotelli mengatakan dalam sebuah acara wawancara di televisi bahwa orang tua kandungnya telah meninggalkannya di rumah sakit dan alasan keluarga kandungnya meminta ia untuk kembali adalah semata-mata karena uang yang diperolehnya.

Thomas Barwuah pun tidak tinggal diam dan secara tegas mengatakan bahwa mereka tidak pernah meninggalkannya di rumah sakit, mereka selalu berusaha yang terbaik untuk Mario dan alasan utama memintanya kembali bukan soal uang, tetapi hanya ingin keluarga mereka kembali berkumpul secara lengkap sebagaimana seharusnya sebuah keluarga.

Sang ayah sepertinya tidak pernah dendam apalagi mengutuk si Bengal Mario, ia malah menyatakan bahwa dia sangat bangga terhadap Mario dan berharap dia selalu baik-baik saja.

Saya pribadi, sebagai seorang ayah dengan satu putra, sulit rasanya membayangkan perasaan sang ayah yang harus memberikan putra pertamanya tinggal dan diasuh oleh orang lain, sulit membayangkan perasaan seorang ayah yang dituduh meninggalkan anaknya di rumah sakit, oleh anaknya sendiri, di mana kenyataannya mereka telah berjuang keras demi keselamatan sang buah hati.

Sulit membayangkan perasaan keluarga itu karena penolakan sang anak terhadap asal-usulnya.

Sulit rasanya membayangkan ucapan sang anak yang mengatakan, “Apa jadinya saya jika tidak dibesarkan oleh orang tua angkatku, tetapi oleh orang tua kandungku ?”

Semoga suatu saat Mario Balotelli sadar bahwa betapa besar pengorbanan dan jasa orang tua kandungnya terhadap hidup dan pencapaiannya saat ini.