Ini kisah nyata yang sangat inspiratif tentang bagaimana kisah seorang yang dibuli saat masa sekolah namun ketika dewasa saat bertemu dengan pembulinya dia sama sekali tidak menaruh rasa dendam, bahkan orang yang dulu dibuli itu berada dalam posisi yang paling memungkinkan untuk membalaskan dendam bulian tersebut, namun tidak dia lakukan.

Ini kisah tentang seorang polisi yang ketika SMA dibuly karena tubuhnya pendek (untuk ukuran orang bule), kemudian hari ketika menjadi polisi dia berhasil menangkap seorang penjahat yang adalah pembulinya saaat masih SMA.

Kisah ini ditulis oleh Christopher Finch, seorang polisi di Amerika Serikat, saya ambil dan terjemahkan dari Quora.com yang berbahasa Inggris, saya harap anda sekalian menyukainya karena sangat inspiratif, mengajarkan kita pesan moral penting dalam menjalani hidup ini.

Christopher Finch:

Ketika SMP/SMA saya termasuk anak yang bertubuh kecil, saat SMA tinggi badan saya adalah 5’7 ″(5 Feet, 7 Inches ) atau 170cm dengan berat badan sekitar 130 lbs atau 58,9 Kg.

Saya dijadikan bahan bulian karena memiliki tubuh lebih kecil. Ada seorang pria, semua orang yang bukan bagian dari lingkarang gengnya mengganggap pria ini sebagai seorang bajingan. Kita sebut saja namanya “Terry.”

Terry adalah bintangnya pegulat, pemain sepak bola, dan sangat suka berkelahi. Dia sering mendapat teguran dan hukuman, tapi dia orangnya cuek, tidak peduli.

Orang ini benar-benar menjadi ancaman. Dia akan menampar anda di bagian belakang kepala, menjatuhkan anda, menjatuhkan buku yang sedang anda pegang, dan memaksa Anda untuk mengatakan atau melakukan sesuatu.

Beberapa orang siswa yang mencoba melawan mendapatkan tendangan dipantat. Dia membuat hidup kami sengsara.

Setelah saya lulus SMA, saya mendaftar di Angkatan Darat Amerika Serikat (saya menjadi generasi ke 5 berturut-turut dalam keluarga saya yang mendaftar).

Saya pergi ke Fort Benning, Georgia: “Rumahnya Infanteri.” Setelah diterima, saya mulai kuliah dan mengambil jurusan Kejahatan Pidana – Forensik.

Beberapa tahun kemudian saya bergabung dengan departemen kepolisian dan akhirnya menjadi seorang C.S.I(Crime Scene Investigation) atau investigator kejahatan.

Sebagai tambahan, wilayah kepolisian tempat saya bertugas adalah salah satu yang tersibuk di negara ini (per kapita). Tingkat kejahatannya selalu masuk dalam 10 besar untuk kejahatan kekerasan.

Penangkapan …

Suatu ketika ada panggilan di mana ada seorang tersangka yang melarikan diri dengan berjalan kaki, setelah terlihat di salah satu area Bagian 8 (atau dikenal sebagai perumahan pemerintah – Proyek).

Tersangka itu adalah seorang pengedar narkoba terkenal dan sudah beberapa surat perintah atas dirinya.

Petugas patroli akhirnya berhasil memojokkannya di bawah sebuah rumah. Tapi dia menolak untuk keluar dan menyerah, jadi petugas memanggil unit K9.

Saya memantau lewat radio, dan ketika saya mendengar bahwa tersangka adalah Terry, saya pergi ke tempat kejadian perkara.

Saya berhenti, dan berjalan ke tempat pengawas dan mengatakan kepadanya bahwa saya mengenal tersangka sewaktu SMA.

Saya bertanya apakah saya diperbolehkan untuk coba membujuk Terry agar keluar sebelum anjing polisi tersebut dikirim.

Sang pengawas berkata ya, saya menuju ke rumah tersebut, berlutut di samping fondasi rumah, dan mulai berbicara dengan Terry.

Saya mengatakan kepadanya siapa saya dan ternyata dia masih ingat saya. Setelah beberapa menit bolak-balik, dia setuju untuk keluar jika hanya saya yang akan menangkapnya.

Saya meyakinkannya bahwa tidak ada orang lain yang akan menyentuhnya (kembali ke masa lalu, itu akan menjadi sebuah tendangan dipantat).

Dia merangkak keluar, melihat ke atas dan melihat tidak kurang dari 12 petugas siap untuk memukul pantatnya.

Ada rasa takut yang sangat di matanya. Petugas yang ada di lokasi tersebut memiliki beberapa senapan patroli, dua senapan shotgun, sepasang Tasers, dan anjing K9 yang menggonggong.

Namun, hanya saya, satu-satunya yang menyentuh dia. Saya membantunya untuk merebahkan badan ke tanah, memborgolnya dan membawanya ke kendaraan patroli. Tidak ada orang lain yang menyentuh dia.

Dia mengatakan bahwa dia rela dan mengharapkan saya untuk menendang pantatnya, dan ketika saya tidak melakukannya, itu mengejutkannya.

Yang saya katakan kepadanya adalah, “Pilihan yang kita buat dalam hidup menentukan karakter kita.”

Update terkini tentang nasib Tery, tanggal 1 September 2019

Saya baru-baru ini mengetahui apa yang terjadi pada Terry. Dia menjalani hukuman lebih dari enam tahun di penjara atas beberapa kejahatan, serta penyalahgunaan obat-obatan terlarang (UPOM 2).

Dia keluar kembali pada Februari 2019, dan sejak itu berusaha membersihkan hidupnya. Dia membuka usaha tukang cukur kecil-kecilan, dan bekerja sebagai tenaga sukarelawan di pusat pemuda setempat yang menangani remaja bermasalah.

Dia menggunakan pengalaman hidupnya dan jalan hidupnya di masalah lalu yang salah untuk mencoba membantu kaum muda agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Bagaimana saya bisa tahu semua ini?

Karena saat ini saya seorang sersan patroli (supervisor),dan suatu ketika kami mendapat telepon untuk segera datang tukang pangkas rambut karena ada alarm bahaya.

Ternyata itu adalah alarm palsu yang disebabkan oleh cuaca buruk, kami tetap melakukan pengecekan. Ternyata Tery juga memantau alarm tersebut melalui beberapa jenis aplikasi peringatan di hapenya sehingga dia pun muncul di tempat pangkas rambutnya.

Ketika dia melihat saya, dia menangis. Saya tidak berbohong, pertemuan itu sangatlah emosional. Ketika akhirnya dia kembali tenang, dia datang dan menjabat tangan saya.

Dia sangat tulus, kedengaran dari suaranya ketika dia berkata, “Chris … maaf, Sersan Finch, Anda mengubah hidup saya dan tidak cukup hanya dengan berterima kasih!”

Kami duduk di pangkas rambutnya dan ngobrol selama setengah jam. Dia mengatakan bahwa dia selalu merenungi kata-kata saya kepadanya, “Pilihan yang kita buat dalam hidup menentukan karakter kita,” dan kata-kata tersebut tetap melekat dipikirannya salama dia berada di penjara.

Dia memutuskan pada saat itu bahwa ketika dia keluar dari penjara, dia akan menjadikannya hidupnya pembawa pengaruh positif pada anak-anak muda di komunitasnya.

Terlepas dari retorika anti-polisi yang tampaknya hadir di bagian-bagian liberal negara itu, ia mengatakan bahwa jika seorang perwira polisi kulit putih dapat memperlakukan seorang preman kulit hitam (kata-katanya) dengan rasa hormat dan kebaikan semacam itu, maka apa yang dikatakan tentang komunitas kulit hitam yang tidak melakukan apa-apa untuk membersihkan jalan mereka sendiri? Dia bersumpah untuk membuat perbedaan.

Itu sebabnya dia melakukan pekerjaan sukarela, dan berusaha menjaga anak-anak muda di sekolah dan keluar dari masalah.

Saya harus pergi pada saat itu, tetapi saya memberinya satu jabat tangan dan bahkan “memeluk” dia untuk perubahan yang dia buat dalam hidupnya. Saya memberinya kartu nama saya jika dia membutuhkan sesuatu dari saya atau wilayah kepolisian. Ketika saya melangkah keluar dari pintu depan, saya mendengar dia bertanya, “Bisakah engakau memaafkan saya untuk kejadian di SMA dulu?”

Saya berusaha untuk menahan tangis, berhenti sejenak dan menahan beberapa air mata dan kemudian mengatakan kepadanya, “Aku memaafkanmu begitu aku membantu merebahkanmy ke tanah ketika kamu merangkak keluar dari bawah rumah itu.”

Ini adalah salah satu pengalaman saya yang paling berharga selama karir penegakan hukum saya ..

Tentang Christopher Finch

  • Memiliki gelar PhD Theology lulus tahus 2016, sejarahwan, Drummer, Stargazer, Deist
  • Seorang Sersan Polisi, Invertigator atau penyidik dari tahun 2004-sekarang
  • Tinggal di Amerika Serikat