Sembilan bulan setelah eksekusi mati sang suami yang adalah raja Perancis Louis XVI, kini giliran sang ratu Marie Antoinette dieksekusi.

Pada tanggal 16 Oktober 1793 sang ratu dijemput dari penjara Paris setelah mendapat restu dari para pemimpin revolusi. Dua orang eksekutor yaitu Charles-Henri Sanson dan sang anak Henri telah bersiap-siap di sebuah tempat yang disebut dengan “ Hall Of The Dead” untuk melaksanakan tugasnya.

Ketika kedua eksekutor tersebut bertemu dengan sang ratu mereka memberikan penghormatan dengan membuka dan mengangkat topi mereka, sang ratu pun berkata: “ Tuan-tuan, saya sudah siap”.

Untuk mengamankan jalannya eksekusi sebanyak 30 ribu tentara bersenjata serta sejumlah meriam ditempatkan di segala penjuru kota terutama di jembatan, persimpangan jalan serta tempat-tempat terbuka seperti taman dan alun-alun kota.

Setelah semuanya siap maka tubuh sang ratu pun diatur sedemikian rupa pada sebuah alat yang sebut guillotine. Sebelum menghembuskan nafas terakhir terdengar kata-kata terakhir yang meluncur dari mulut sang ratu : “Selamat berpisah anak-anakku, aku akan bergabung dengan ayah kalian”. Sang eksekutor Charles-Henri segera bertindak dan diiringi dengan bunyi genderang maka kepala sang ratu pun segera terpisah dari tubuhnya.

Sesaat kemudian yang terdengar adalah teriakan “ Hidup Republik” dari penonton yang hadir.
Setelah itu sesuai dengan tradisi yang berlaku maka sang eksekutor kemudian mengambil kepala sang ratu dari dalam keranjang kemudian mengangkatnya setinggi mungkin untuk diperlihatkan kepada seluruh hadirin yang hadir.

Sebelum dimakamkan seluruh pakian yang menempel pada mayat sang ratu dilepaskan dan tubuhnya ditaburi dengan kapur, dimasukkan ke dalam peti mati untuk dikuburkan di pemakaman La Madeleine berdampingan dengan sang raja.