Angkutan umum di Jakarta, khusus bus kota non busway, selalu menyimpan misteri yang sulit untuk diketahui. Rasa penasaran timbul ketika berada di dalam bus, namun setelah turun maka sesaat kemudian semuanya hilang tersapu asap jalanan.

Sambil membayangkan sedang berada di dalam bus umum, duduk di bagian tengah bus, pada posisi bangku 2, terdengar nyanyian pengamen yang kadang lebih oke dari artis kampung tapi kadang, lebih baik langsung minta uang saja dari pada harus nyanyi buang waktu.

Rasa penasaran perlahan timbul ketika membayangkan enaknya jadi sopir dan kenek yang tiap hari bolak-balik melintasi jalanan Ibu kota dan daerah sekitarnya. Tetapi ngomong-ngomong, tanpa ada maksud sedikitpun untuk mengecilkan, berapa gaji ataupun pendapatan yang diterima keduanya.

Bandingkan dengan karyawan kantoran atau buruh pabrik yang menerima gaji di akhir bulan. Karena pembayaran akan jasa transport yang diberikan dilakukan langsung secara tunai, sepertinya para awak bus umun, bisa dikategorikan sebagai tenaga kerja yang setiap harinya selalu menerima langsung pendapatan mereka. Begitu hal itu dikonfirmasikan langsung ke keneknya, jawabannya pasti tidak memuaskan, ogah-ogahan jawabnya.

Lanjut lagi ke pertanyaan berikutnya. Apakah status para awak bus umum itu? Karyawan kontrak, permanen, freelance atau karyawan harian. Kalau ditanyakan kepada si kenek, pasti bisa langsung dijawab tanpa pikir panjang. Ooh, tunggu dulu masih ada satu lagi, para awak bus itu lulusan apa? sekali lagi, tidak ada niat apa-apa cuma penasaran saja.

Bagaimana dengan jam kerja para awak bus? Yang sudah pasti bus umum itu jam 4 pagi sudah mulai mondar-mandir di jalan dan jam 10 atau 11 malam baru pulang ke pool. Lalu? Pasti ada model pembagian jam kerja, semacam sif-sifan begitu.

Berapa jumlah pasti karyawan bus umum non busway yang ada di wilayah Jabotabek? Tidak ada yang tahu pasti karena status mereka sebagai karyawan pun sepertinya tidak jelas. Mungkin perusahaan pemilik armada bus tahu, berapa karyawan yang terdaftar namun kenyataan di lapangan jumlahnya lebih besar dari data mereka.

Ya begitulah segelintir pertanyaan yang selalu hadir tiap kali naik bus umum. Masih banyak lagi pertanyaan terkait bus umum nonbusway.