Ini adalah kisah kedua dari trilogi bus kota dalam serial Memoria Bus Umum Jabotabek. Tidak ada yang spesial namun bukan hal biasa untuk dilewatkan.

Bus Kota, ribuan mungkin jumlahnya, seperti kuda tua penarik delman, kondisinya tidak lebih dan tidak kurang, sama. Tua rentah, tambal sulam di mana-mana, tidak ada yang peduli.

Para awak bus seperti cuma peduli berapa banyak penumpang yang bisa masuk ke dalam. Bus bisa melaju, itu sudah cukup, tidak peduli mau dia ngos-ngosan atau sakarat yang penting hari ini rating setoran memenuhi target.

Masa bodoh dengan daya angkut maksimum, tidak ada juga yang peduli. Bus kota serasa tidak bertuan, sang petugas dari departemen merasa itu miliknya ketika terjadi pelanggaran aturan, hanya itu, soal layak tidaknya kondisi bis, itu urusan nanti, pas kalau ada mudik masal baru dicek.

Awak bus? Sudah jelas, setoran hari ini harus tinggi. Masa bodoh dengan bus tua ini.

Satu lagi dari tiga master bus kota, yaitu pemilik bus, bagi yang satu ini, selama masih bisa jalan dan ada pemasukkan itu sudah cukup. Kualitas bus itu nomor dua, selama tidak ada teguran dari dinas terkait, tancap gas terus.

Pertanyaan klasik layak dilayangkan kepada dua master bus kota, namun dengan harapan bukan jawaban klasik yang didapat, apalagi dijawab dengan pertanyaan.

Kepada si petugas departemen, pernahkah anda melakukan investigasi terhadap kondisi bus dengan menyamar sebagai penumpang umum? Kemudian dengan berani bicara jujur kepada masyarakat tentang fakta yang anda temukan kemudian memberikan solusi dengan membuat aturan baru yang bisa lebih meningkatkan kualitas pelayanan sebuah perusahan jasa angkutan bus, beranikah anda?

Bagi Sang bos, pemilik bus kota, apakah anda pernah naik bis kota dengan menjadi penumpang umum tanpa anak buah anda tahu bahwa si bos sedang menumpang dalam busnya sendiri? Yakin dengan begitu, pak bos pasti lebih sadar bahwa kualitas bus adalah syarat utama bagi pelayanan yang baik dan jaminan bagi kelangsungan bisnis anda.

Terbayang rasanya membuat bus-bus kota itu hdup dengan sebuah sentuhan magis dari kotak ajaib milik para Otobots dalam film Transformer. Dan selanjutnya adalah pemandangan seru, para robot bus itu mengamuk dan mengejar-ngejar para awak bus, pemilik dan petugas departemen yang tidak peduli terhadap kondisi mereka.