Setelah menerima rapot sang anak, kakak saya begitu bahagia karena hasil belajar anaknya selama satu semester, sungguh memuaskan katanya.  Akan tetapi cerita bahagia sedikit terganggu dengan tuntutan sang anak, si buah hati yang masih duduk di bangku SMP kelas satu di salah satu sekolah favorit se kota Bekasi itu menuntut untuk dibelikan sebuah handphone atas prestasinya tersebut.

Kalau sekedar handphone rasanya tidak ada masalah bagi para orang tua, namun kriteria handphone yang diminta tidak tanggung-tanggung untuk ukuran anak SMP kelas 1. Jelas sang Ibu menolak permintaan si anak untuk memiliki iPhone terbaru, namun tidak ingin mengecewakan si anak akhirnya dibelikan handphone Xiaomi Redmi3 S, seharga 1,7jt.

Ini bukan soal tak ada rotan akar pun jadi tapi soal bagaimana kepantasan seorang anak memiliki sebuah gadget.

Tidak ada yang istimewa dari cerita di atas, tapi selang satu bulan berlalu, saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga tentang seperti apa tingkat kepantasan seorang anak dalam memiliki gadget mahal.

Ceritanya dimulai ketika saya menjumpai seorang teman kantor, ia seorang wanita muda, cantik dengan tesktur wajah kebaratan alias indo, memiliki karir yang bagus, mendapatkan gaji yang besar, namun ketika melihat hape yang ia gunakan saya langsung tertegun. Ia menggunakan hape smartphone berlabelkan ASUS bukan iPhone atau Samsung terbaru.

Hape ASUS itu dari casing dan seri modelnya rasanya bukan keluaran terbaru dan sudah lama ia gunakan. Saya yakin kalau hape itu sudah ia gunakan sejak ia masih kuliah. Ingatan saya langsung ke peristiwa ketika sang keponakan meminta untuk dibelikan hape premium class.

Berkaca dari pengalaman sang pengguna ASUS maka apakah anak-anak itu pantas menggunakan hape yang mahal?

  1. Gaya versus kebutuhan

Hape kelas tertinggi dari iPhone dan Samsung  memiliki  tampilan elegan yang sangat menggoda siapa pun, termasuk anak-anak.

Menurut saya, sudut pandang anak terhadap sebuah hape adalah lebih ke urusan untuk bergaya dan ajang pamer kepada teman-temannya saja. Semua kebutuhan anak dalam menggunakan hape rasanya cukup dengan hape standar saja, tidak perlu yang mahal.

Untuk yakin bahwa anak-anak itu cuma sekedar bergaya dengan hape mereka maka kita mesti bertanya kepada mereka apa alasan mereka sampai harus menggunakan hape yang mahal, seperti apa keperluan mereka terhadap hape tersebut.

Sekaya apapun orang tua, membelikan anak barang mahal untuk keperluan yang tidak sesuai kebutuhan adalah kesalahan dalam mendidik anak, anak akan menjadi konsumtif di kemudian hari, segala sesuatunya diukur dari harga yang mahal bukan dari kebutuhan yang diperlukan.

  1. Sudut pandang anak versus sudut pandang orang tua

Untuk urusan boleh tidaknya anak punya hape yang mahal, menurut saya sebaiknya keputusan itu harus berdasarkan sudut pandang orang tua, bukan memutuskan karena sudut pandang anak.

Bagi anak-anak menggunakan hape dengan harga selangit adalah sebuah prestisius,  namun seringnya prestisius itu pun menular kepada para orang tua.

Bahwa orang tua secara tidak langsung juga berharap mereka akan dipuji dan diakui kemampuan keuangan mereka ketika anak mereka ketahuan menggunakan hape mahal.

Para orang tua harusnya jujur dan sadar bahwa anak-anak sebaiknya tidak memiliki hape yang super mahal karena memang belum sesuai dengan kebutuhan mereka.

  1. Pengakuan itu hanya berusia 1 minggu

Seorang teman yang sukses menjadi pengusaha angkutan karyawan mengatakan bahwa jangan pernah membeli sesuatu hanya untuk mendapatkan pujian.

Sebab pujian dan pengakuan orang hanya bertahan satu minggu saja setelah itu tidak ada lagi pujian dan semua akan terasa biasa-biasa saja, akan berjalan datar-datar saja. Dan jika kita memiliki barang hanya karena alasa prestis maka siap-siap menyesal.

Jangan pernah semaraknya  hidup kita ditentukan oleh orang lain, semaraknya hidup kita, kitalah yang menciptakan dan menghadirkannya, dengan kemampuan dan cara kita sendiri.

  1. Barang harga mahal vs barang harga standar

Kalau barang harga standar bisa berfungsi dan dapat dipakai sama sepertinya barang berharga mahal maka untuk apa memiliki barang mahal.

Soal smartphone, yakin seratus persen bahwa kebutuhan dan penggunaan hape smartphone tidak perlu yang berharga mahal.

  1. Sebaiknya orang tua paham dengan kemampuan dan kelebihan hape yang diminati oleh anak

Orang tua yang tidak mau repot dan ambil pusing biasanya mudah termakan dan terpengaruh oleh argumentasi anak. Kenapa orang tua gampang takluk oleh anak? karena orang tua tidak punya pengetahuan atau tidak mau repot untuk mencari tahu lebih jauh hal-hal terkait permintaan si anak.

  1. Tidak semua fitur yang ditawarkan gadget mahal terpakai

Jangankan anak-anak, penggunan hape smartphone yang sudah dewasa sekalipun belum tentu memakai semua fitur yang ditawarkan oleh sebuah hape mahal.

  1. Perkembangan dunia teknologi begitu cepat

Fakta bahwa sebuah hape yang saat ini dianggap terbaru dan termahal nantinya akan menjadi hape yang biasa-biasa saja setelah 1 tahun berlalu, harusnya bisa membuat para orang tua sadar bahwa yang serba terbaru, tercanggih dan termahal tidak akan lama bertahan.

Dalam kurun waktu yang singkat pastinya akan muncul produk-produk baru yang mengatakan bahwa inilah hape tercanggih dan termahal.

  1. Fakta bahwa secara fitur tidak banyak yang bertambah dalam dunia smartphone

Salah satu fitur yang digadang-gadang paling handal adalah 4G, semua hape yang terbaru dan tercanggih sudah tentu harus 4G, namun apakah ada perbedaan yang signifikan ketika menggunakan hape yang support 4G dan tidak support 4G?

Dalam praktek, rasanya nyaris tidak ada bedanya antara hape 3G dan 4G. Selain 3G dan 4G, aplikasi yang biasa digunakan anak-anak pun dapat dipasang di hape standar maupun hape yang sangat mahal.

Kesimpulan

Karena keputusan ada di tangan orang tua maka sebaiknya orang tua harus memutuskan dari sudut pandang sebagai orang tua,  anak-anak itu rasanya tidak butuh hape yang mahal-mahal, hape dengan harga yang standar pun sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.