Agar proses routing dapat berjalan secara maksimal maka diperlukan sistem pengaturan yang baik sehingga tidak terjadi kesalahan yang berakibat pada gagalnya proses transmisi data dari satu segment jaringan ke segment jaringan lainnya. Routing yang dilakukan oleh router adalah dengan menggunakan atau berdasarkan  informasi yang tersimpan di dalam routing table.

Yang jadi masalah adalah ketika router tidak menemukan informasi pada routing tabel terkait sebuah paket yang akan di-routing dan paket tersebut haruslah dibuang.

Untuk meningkatkan kehandalan sebuah router dalam melakukan proses routing maka dibutuhkan sebuah protocol yang bertugas mengumpulkan informasi seakurat dan se-update mungkin.

Secara umum ada 2 cara untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam routing table yaitu dengan metode static atau yang dikenal sebagai Static Routing dan cara dinamis yang dikenal dengan Dynamic Routing.

Perlu diingat bahwa pada router tidak berlaku metode broadcast, router sama sekali tidak pernah menerapkan broadcast dalam semua aktivitasnya, termasuk untuk mendapatkan informasi terkait routing proses.

 Static Routing
Pada static routing, parameter dari routing table seperti network address, interface dan metric didapatkan melalui masukkan yang dilakukan oleh administrator router secara manual.
Ya secara manual, artinya semua informasi yang dibutuhkan dalam proses routing tersebut tidak boleh keliru dan harus selalu di-update secara manual juga jika ada perubahan pada konfigurasi jaringan.

Dynamic Routing
Dynamic routing menggunakan protocol untuk mendapatkan informasi terkait proses routing yang kemudian disimpan dalam routing tabel. Bedanya dengan static routing adalah pada dynamic routing, admin atau network engineer tidak perlu menginput parameter secara manual, jika terjadi perubahan pada salah satu network maka proses update-nya pun dilakukan secara automatis, tidak secara manual diupdate oleh admin router.

Protocol yang bertugas mencari dan mendapatkan informasi terkait dengan routing disebut dengan istilah routing protocol.

Routing protocol adalah metode atau sistem aturan yang dipakai dalam proses routing untuk mendapatkan atau memperoleh informasi terkait parameter-parameter yang ada di dalam routing table, seperti network address, interface dan metric.

Poin penting dari posting ini adalah bagaimana cara router dalam mendapatkan informasi yang diperlukan untuk melakukan proses routing. 

Sebagai kesimpulan terhadap metode atau teknik untuk mendapatkan informasi maka bisa kita simak pada pembahasan berikut ini terkait perbedaan antara static dan dynamic routing.

1.    Pada static routing informasi seperti interface mana yang harus dilewatkan, berapa network address dan metric mesti ditentukan secara manual oleh si admin dari router tersebut.

2.    Router tidak mengenal broadcast jadi pada static maupun dynamic routing, sama sekali tidak menggunakan metode atau cara yang mirip dengan cara broadcast.

3.    Static routing tidak menggunakan protocol routing dalam mendapatkan informasi terkait proses routing.

4.    Jika terjadi perubahan pada konfigurasi network yang menyebabkan gangguan sehingga perlunya dilakukan perubahan pada routing tabel maka admin jaringan harus meng-upadate secara manual terkait perubahan tersebut. 

5.    Pada dynamic routing informasi diperoleh dengan cara menugaskan protocol routing untuk mencari tahu terkait dengan parameter yang dibutuhkan.

6.    Admin jaringan tidak melakukan input secara manual, admin cuma menentukan jenis protocol yang mesti digunakan.

7.    Setiap kali ada perubahan maka tugas routing protocol untuk melakukan pengecekan dan mengupdate jika seandainya dibutuhkan update.

8.    Routing protocol pada dynamic routing, secara berkala melakukan update terus menerus untuk mengetahui kondisi terbaru dari konfigurasi jaringan secara menyeluruh.

9.    Routing protocol bisa mempertimbangkan kondisi network, seperti bandwidth dari koneksi mana yang bagus untuk dilewatkan paket.

10.    Secara prinsip, pada static routing, parameter routing harus diinput secara manual, baik itu pada awal proses routing dan atau ketika terjadi perubahan. Dengan kata lain pada static routing admin router harus secara langsung turun tangan melakukan konfigur jika terjadi perubahan. Pada dynamic routing jika ada perubahan maka proses update tidak perlu dilakukan secara langsung oleh admin router.