Jawabannya perlu, karena sebagian besar perusahaan mensyaratkan kepada calon karyawannya agar bisa diterima di perusahaan tersebut harus ber IPK lebih dari 3,0.

Tapi apakah IPK tinggi menjamin karir yang bagus dan masa depan yang lebih baik? Buat saya tidak sama sekali!!!!

Saya punya cerita kisah nyata tentang nasib si IPK tinggi dan IPK rendah saat berada di dunia kerja, dunia nyata:

Seorang teman ketika kuliah dan lulus hanya dengan IPK 2,3; Sedangkan teman satunya lagi, mahasiswa pintar, asisten dosen, lulus dengan IPK di atas 3,5.

Singkat cerita kedua teman tersebut bekerja di sebuah perusahaan multinasional, tahukah anda seperti apa posisi keduanya?

Ketika menghadiri resepsi nikah sang teman yang IPK 2,3 , saya berbincang dengan teman yang mantan asisten dosen. Diapun curhat katanya kalau di kantor dia adalah bawahan dari teman yang sedang berada di pelaminan tersebut.

Kata si asdos: “ Gila tuh anak hoki banget dia, melasat banget karirnya, waktu kuliah kayak gitu, ternyata asdos ( IPK tinggi ) jaman  kuliah tidak jaminan untuk sukses dalam karir”.

Tapi, yang mesti anda ingat bahwa proses keduanya masuk atau diterima bekerja di perusahaan multinasional  tersebut sungguh jauh berbeda.

Perusahaan multinasional  tentu tidak akan menerima lulusan ber IPK 2,3, jadi ketika lulus hanya sang asdos saja yang bebas melanggang masuk tanpa kendala berarti.

Sang teman yang ber IPK 2,3 sangat liku-liku karirnya, mulai dari terseok-seok sebelum bisa melampui sang asdos. Ia harus mulai dari perusahaan kecil yang sama sekali tidak punya nama, kerja rodi gaji kecil adalah hal yang lumrah; kemudian berpindah ke perusahaan lokal yang kelasnya menengah dan kemudian ditugaskan untuk mengurusi klien yaitu perusahaan multinasional tempat asdos bekerja. 

Lama kelamaan, mungkin karena kinerjanya yang oke, teman ber IPK 2,3 meloncat dan bergabung dengan teman asdos, ya ia direkrut masuk ke perusahaan internasional tersebut.  

Ketika saya bertanya ke teman yang IPKnya 2,3: “ Bos, hoki benar hidup lu.”

Apa jawabnya( dengan tegas): “ Gak ada istilah hoki dalam hidup gw, yang adalah kerja keras dan tahan banting. Gw udah kebal diomelin, disalah-salahin, dimaki-maki, tapi gw gak pernah patah semangat, gw terus fokus dengan apa yang ingin gw capai.”

Pengalaman lain saya dapatkan dari cerita teman:

Bahwa di bagiannya kedatangan seorang anggota baru, pindahan dari bagian lain. Anggota baru itu konon memiliki IPK 3,9 dan sangat pintar. Namun ketika bekerja hasilnya cukup mengecewakan, tidak ada yang beres, tidak bisa mandiri dan selalu harus dibantu, ia lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dengan hape-nya saja.

Akhirnya cuma 3 bulan ia bertahan dan mengundurkan diri dari perusahaan dengan alasan ingin melanjutkan s2 dan S3 sekaligus.

Setelah beberapa lama, terdengar khabar bahwa ia ternyata pindah ke perusahaan kompetitor. Konon khabarnya, sebelum pindah ke bagian teman saya itu ia sudah ditolak secara halus dengan direkomendasi ke bagian lain oleh atasan. Ia juga ternyata punya koneksi yang kuat di level tingkat atas sehingga ia masih bisa bertahan di perusahaan tersebut.

Kesimpulan yang menguatkan bahwa IPK bukan jaminan sukses saya ambil dan rangkum dari forum tanya jawab Qoura.

Ada beragam jawaban terkait pertanyaan tentang seperti apa pengalaman para perekrut kerja terkait dengan IPK  tinggi yang dimiliki para calon pelamar.

  • Dikatakan bahwa faktor-faktor seperti komunikasi, pembawaan, pengalaman, dan rekomendasi adalah kunci penting dalam melamar kerja.  IPK 4 sekalipun tidak pernah jadi tolak ukur, karena percuma pintar kalau tidak bisa bekerja.
  • Entah mengapa kecenderungan orang-orang dengan IPK 4 (tidak semua ya), mereka tidak bisa mengukur bahwa dunia nyata tidak diukur dari IPKnya.

IPK seringnya digunakan untuk “saringan” awal. Namun keputusan akhirnya, IPK hanya menjadi salah satu faktor pertimbangan.

  • Seberapa tinggi IPK Anda, jika anda tidak bisa beradaptasi dengan perusahaan yang merekrut, ya pilihan Anda hanya berubah atau bangun bisnis sendiri.
  • Ini pengalaman dari salah satu perekrut tenaga professional:

“ Saya memiliki otoritas merekrut anggota tim, dan pada awalnya saya memberikan prioritas para kandidat yang memiliki IPK diatas 3. Dengan asumsi, mereka akan bekerja secara serius, tidak main main dan bersikap proffesional seperti ketika kuliah.

Pengalaman mengatakan sebaliknya. Kebanyakan fresh graduate yang memiliki nilai akademis baik dan sangat baik ternyata tidak mudah diandalkan untuk bekerja dalam jangka waktu lama, sikap profesional, kemampuan berorganisasi dan bekerjasama.

Pada akhirnya, saya meminta HRD untuk tidak melakukan penyaringan awal berdasarkan nilai akademis. Kami melakukan penyaringan awal menggunakan metode lain yang lebih mengedepankan sikap, dan kemampuan bekerjasama dengan anggota. Selain itu kami juga lebih menghargai kandidat yang bisa menghargai orang lain baik yang lebih senior maupun yang lebih junior.

  • Rata-rata lulusan berIPK tinggi memiliki kualitas secara intelegensia, tapi tidak memiliki sense of emotional.
  • Menurut seorang pengusaha, sewaktu kuliah dulu, yang mempunyai IPK tinggi itu hanya rajin saja, bukan punya kemampuan yang bagus.

Kata dia lagi “Bagi kami para pemilik perusahaan, kami ingin agar tenaga kerja yang masuk ke kami sudah tahu apa tugas mereka masing-masing, bukan mengajari dari awal lagi.”

Dan sayangnya banyak yang punya IPK tinggi terkadang tidak mengerti apa tugas mereka.

Semoga berguna

Sumber: Pengalaman pribadi dan Quora.com