O mio babbino caro, mi piace, è bello, bello. Vo’andare in Porta Rossa, a comperar l’anello!
Oh ayahku tercinta, Aku mencintainya, aku mencintainya! Aku akan pergi ke Porta Rossa,
Untuk membeli cincin pernikahan kami.
Sì, sì, ci voglio andare! e se l’amassi indarno, andrei sul Ponte Vecchio, ma per buttarmi in Arno!
Oh ya, saya benar-benar mencintainya. Dan jika ayah masih mengatakan tidak, Aku akan pergi ke Ponte Vecchio, Dan terjun ke bawah.
Mi struggo e mi tormento! O Dio, vorrei morir! Babbo, pietà, pietà! Babbo, pietà, pietà!
Cintaku, aku menderita karenanya, Akhirnya, aku ingin mati. Bapa aku berdoa, aku berdoa. Bapa aku berdoa, aku berdoa.

____________________________      ——      _______________________________

Tahun 1918 Syair dari sebuah nyanyian diperdengarkan kepada umum dalam sebuah pertunjukkan Opera berjudul Gianni Schicchi karya Giacomo Puccini, maestro Opera legendaris asal Italia.

Syukurlah, sudah 94 tahun yang lalu penampilan pertama Gianni Schicchi digelar, jika nyanyian itu digelar dan menjadi tenar di jaman penuh teknologi seperti saat ini, pastinya akan menuai protes keras dari berbagai kalangan terutama para orang tua.

Mengapa pada saat itu tidak ada protes terhadap syair nyanyian ini? Mengapa selama 94 tahun “O Mio Babbino Caro” atau “ O Ayahku Tercinta” masih terus dinyanyikan dan melegenda sampai saat ini?

Apakah O Mio Babbino Caro cuma nyanyian opera, sehingga hanya segelintir orang yang bisa mendengarnya?

Apakah para pendengarnya dianggap memiliki kedewasaan berpikir yang tidak akan terpengaruh oleh tindakan nekat sang gadis, mengancam terjun ke sungai jika cintanya tidak direstui oleh sang ayah?

Ataukah karena nyanyian opera merupakan karya seni tingkat tinggi yang membuat para pendengarnya akan selalu menganggap dan melihat segala sesuatunya sebagai sebuah seni?

Merenungi syair ini dan membayangkan pertunjukkan opera Gianni Schicchi, di mana dengan penghayatan dan akting tingkat tinggi dari para pemainnya, pastilah nyanyian gadis penyayat hati itu dalam opera itu, mewakili ungkapan hati yang paling sedih dan terdalam dari semua anak gadis yang tidak direstui hubungan asmaranya.

Sebuah pesan juga ingin disampaikan kepada semua orang tua yang sedang berhadapan dengan situasi sulit ini, bagaimana gambaran sesungguhnya jeritan hati putri mereka yang sedang jatuh cinta namun tidak mendapatkan restu.

O Mio Babbino Caro” adalah ungkapan  hati yang paling dalam dari gadis yang tidak direstui hubungan cintanya.